Breaking News
22:56

DEFISIT APBN 2,85 PERSEN: PEMERINTAH JAGA ANGKA, PENGUSAHA BERJUANG MENJAGA LABA.

Bagikan
Lihat Tersimpan

JKTINSIGHT | EKONOMI BISNIS

Jakarta, https://jktinsight.com — Bagi pengusaha, persoalan ekonomi tidak berhenti pada angka defisit APBN atau stabilitas fiskal yang diumumkan pemerintah. Di lapangan, tantangannya jauh lebih konkret: pesanan yang belum tentu bertambah, harga bahan baku yang menekan margin, biaya logistik yang menggerus keuntungan, bunga pinjaman yang membebani arus kas, serta konsumen yang semakin selektif membelanjakan uangnya.

Pengusaha harus memastikan bisnis tetap berjalan, karyawan tetap menerima upah, pemasok tetap dibayar, dan kewajiban kepada perbankan tetap terpenuhi. Pada saat yang sama, mereka dituntut mempertahankan keuntungan agar perusahaan mampu bertahan dan berinvestasi.

Dalam situasi seperti itu, target pemerintah menjaga defisit APBN 2026 di kisaran 2,85 persen dari produk domestik bruto (PDB) perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas. Disiplin fiskal memang penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan keberlanjutan anggaran. Namun, bagi dunia usaha, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kebijakan tersebut turut menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan meningkatkan penjualan, menekan biaya, memperluas produksi, dan memperoleh kepastian berusaha.

Pemerintah berkepentingan menjaga defisit. Pengusaha berkepentingan menjaga kelangsungan usaha. Tantangannya adalah memastikan kedua kepentingan itu bertemu dalam kebijakan ekonomi yang produktif.

Menteri Keuangan menyatakan pemerintah menjaga defisit APBN 2026 pada kisaran 2,85 persen PDB. Namun, keberhasilan mempertahankan rasio fiskal tersebut tidak otomatis berarti persoalan dunia usaha telah teratasi. Angka defisit yang terkendali belum tentu langsung meningkatkan pesanan industri, memperbaiki arus kas UMKM, menurunkan biaya produksi, atau mendorong perusahaan merekrut lebih banyak pekerja.

Di sinilah efektivitas APBN seharusnya diuji: bukan hanya dari kemampuannya menjaga keseimbangan anggaran, melainkan juga dari dampaknya terhadap kegiatan ekonomi produktif.

Sebab, bagi pengusaha, ekonomi yang sehat bukan sekadar ekonomi dengan angka makro yang terlihat terkendali, melainkan ekonomi yang menyediakan pelanggan, kepastian, dan peluang nyata untuk berkembang.

https://jktinsight.com – Oktovstieb

Penulis

admin@jktinsight

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *